Serat Pangan – untuk Apa Dikonsumsi Kalau Tidak untuk Diserap Tubuh?

tumblr_m5f5m4gLz11ry6151o4_500

Serat. Tidak seperti senyawa-senyawa pada umumnya yang memiliki komponen-komponen penting untuk diserap tubuh, serat pangan a.k.a dietary fiber justru berperan karena sifatnya yang tidak mudah dicerna. Tapi sifatnya ini tidak serta merta membuat serat menjadi tidak dibutuhkan tubuh.

Ya, serat memang ngga sehebat karbohidrat yang mampu menjadi sumber energi, ngga seheroik protein sang healer sel-sel tubuh yang rusak atau tak sebaik lemak yang senantiasa menghangatkan tubuh. Tapi pernahkah kamu menerka sebab akibat sembelit atau kesulitan BAB? Nah disitu kamu sudah menemukan satu peran penting serat pangan lho.

Senyawa berantai karbon kompleks dan panjang ini umumnya terdiri dari komponen-komponen dinding sel tumbuhan seperti selulosa dan lignin yang tidak mudah dicerna maupun diserap oleh tubuh.

Tidak hanya melancarkan BAB, serat juga mampu menurunkan kolesterol, mencegah kanker usus besar, baik bagi penderita diabetes, dan membuat kita kenyang lebih lama. Analogikan saja serat pangan sebagai jala untuk

menangkap ikan. Dalam tubuh kita serat pangan mampu mengikat senyawa-senyawa organik, salah satunya adalah empedu dan sebagian kolesterol sehingga terbuang bersama feses.

Tubuh yang kekurangan empedu menyebabkan sintesis empedu dilakukan, padahal sintesis empedu membutuhkan kolesterol, semakin banyak serat menyerap empedu semakin banyak pula kolesterol yang dipakai untuk membuat empedu kembali. Hal ini mirip dengan mekanisme kerja obat kolesteramin.

Didalam usus besar walaupun tidak diserap, serat pangan ikut difermentasi dan menghasilkan asam-asam lemak salah satunya asam propionat. Asam tersebut dapat menurunkan pH yang mencegah pertumbuhan sel kanker kolon lho. Selain itu, asam propionat yang dihasilkan ini juga mampu mencegah sintesis kolesterol, mirip dengan prinsip kerja obat simpastatin.

Selain kolesterol, serat pangan juga baik bagi penderita diabetes, karena sifatnya yang viskous (kental) dapat menghambat absorbsi glukosa maupun kolesterol.

Nah kan, banyak manfaatyg bisa kamu peroleh dari serat selain menjaga kesehatan pencernaan serat juga mampu menjadi pengontrol kolestrol tubuh.

Lalu darimana kita mendapatkan serat?

Dari konsumsi buah, sayur, legum dan berbagai jenis serealia. Oiya satu lagi! Biasakan minum jus buah/sayur yang tidak disaring ya, karena zat-zat yang tidak tersaring itu justru kaya akan serat.

Semoga bermanfaat ya!

 

Iklan

Pangan dalam Berita

Koran, majalah, televisi dan radio dipenuhi dengan berita tentang wabah yang berkaitan dengan makanan. Salmonella, E. coli, botulisme dan Listeria telah menjadi menjadi istilah umum. Kita paham bahwa semua itu dapat membuat kita sakit, tetapi sulit menentukan seberapa serius risikonya dan seberapa besar kemungkinan kita keracunan. Tanggapan kita terhadap bombardir media mulai dari merasa takut akan semua yang kita makan sampai mengacuhkan semua berita tentang makanan.

Meskipun ada banyak informasi mengenai penyakit terkait makanan, tidak semuanya tepat dan bermanfaat. Fakta dan fiksi seringkali sulit dibedakan. Beberapa pandangan umum tentang keracunan makanan seringkali diabaikan. Konsumen menyalahkan industri pangan dan pemerintah. Sebaliknya, industri dan pemerintah menuding konsumen. Sikap saling menyalahkan ini membuat pihak yang menyalahkan merasa lebih baik, tetapi tidak meyelesaikan masalah keamananan pangan.

Media berita memang sangat baik untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak begitu baik dalam memberi solusi. Sangat mudah menyalahkan media untuk situasi seperti ini, tetapi hal ini justru mengabaikan masalah sebenarnya dalam penyebaran informasi. Keterbatasan utama media dalam mengkomunikasikan masalah pangan antara lain :

  • Lebih mudah menarik perhatian dengan mengedepankan masalah daripada menyampaikan informasi faktual dan solusi yang diharapkan.
  • Kisah khusus dan personal lebih mudah menarik perhatian daripada masalah-masalah yang umum.
  • Bahaya yang tidak jelas dan tidak biasa cenderung dilebih-lebihkan, sedangkan bahaya yang umum dan tersebar seringkali diabaikan.
  • Wartawan biasanya tidak belajar sains, sedangkan ilmuwan tidak fasih berkomunikasi dalam bahasa yang mudah dimengerti.

Banyak masalah pangan yang sifatnya kompleks dan membutuhkan pemahaman ilmiah yang baik. Wartawan yang sedang memburu berita besar menjadi frustasi karena para ilmuwan, dengan bahasa tingkat tinggi, memberikan jawaban panjang untuk pertanyaan sederhana dan tampaknya enggan memberikan penyebab dan solusi yang sederhana. Para ilmuwan juga tidak kalah frustasi karena harus berhadapan dengan tenggang waktu yang terbatas, tuntutan untuk menyederhanakan masalah dan kurangnya apresiasi pewawancara terhadap prinsip-prinsip ilmiah dasar. Sebagian masalahnya adalah banyak pertanyaan yang kita ajukan tidak dapat dijawab dengan mudah oleh ilmu pengetahuan, sedangkan jawaban yang diberikan ilmu pengetahuan banyak yang tidak sesuai dengan bahasa yang dapat dikomunikasikan oleh wartawan.

Penjelasan yang lebih ilmiah dalam perspektif jurnalistik, baca Spoiled (1997) karangan Nicole Fox. Apabila lebih suka membaca novel yang ditulis oleh seorang dokter medis, coba baca Toxin (1998) karangan Robin Cook.

 

Teknologi Pangan UNIMUS (Universitas Muhammadiyah Semarang) Kedatangan Tamu dari IIUM (International Islamic University of Malaysia)

Prof Irwandi Jaswir PhD, Direktur International Halal research and Training (INHART) International Islamic University of Malaysia (IIUM) Sabtu 25/2 berkenan memberikan kuliah tamu di Prodi Teknologi Pangan UNIMUS. “Merupakan kebanggaan dapat menghadirkan beliau untuk membekali mahasiswa Prodi Teknologi Pangan berkompenten di bidangnya, khususnya knowledge of halal food  dengan segala tantangan-tantangannya,” jelas Dr Nurhidajah STP MSi, Kaprodi Teknologi Pangan UNIMUS.

Prof Irwandi yang pernah mendapat penghargaan Anugerah Saintis Muda Asia Pasifik (2009) di Thailand yang diprakarsai oleh Scopus (situs basis data pencarian jurnal ilmiah dan indeks kutipan terbesar di dunia), juga Habibi Award (2013) menekankan pentingnya keilmuan halal bagi mahasiswa Teknologi Pangan dengan ciri Islam yang telah melekat pada Muhammadiyah. “Ini akan menjadi pembeda dengan lainnya. Halal banyak berhubungan dengan berbagai aspek, sehingga ke depan UNIMUS bisa memiliki pusat studinya untuk memacu peningkatan produk halal di Indonesia yang pasarnya sangat besar,” jelas pria kelahiran Medan, Sumatra Utara ini.

Ditambahkan oleh Irwandi yang alumni S1 Fateta IPB, “Semestinya negara-negara berpenduduk mayoritas Islam bisa memaksimalkan pasar halal yang terus tumbuh di tingkat global. Dia mencontohkan bahwasannya di Malaysia, pemasok terbesar bahan tambahan makanan adalah Thailand. Jumlahnya sangat besar, mencapai 70%. Itulah tantangannya, kita perlu menggali dan mengoptimalkan potensi yang kita miliki guna turut berkompetisi dan ambil bagian dalam pasar produk halal.”

“Kita bisa belajar dari Prof Irwandi, saintis muda muslim dalam Food Chemistry and Biochemistry khususnya halal food research. Dia memiliki catatan 40 karya ilmiah di jurnal internasional serta 60 karya ilmiah di konferensi internasional. Belum lagi puluhan artikel ilmiah populernya di berbagai media massa, serta 5 artikel bab buku (book chapter) di buku ilmiah internasional, “ jelas Agus Suyanto STP MSi dosen Prodi Teknologi Pangan Unimus dalam penelusuran jejak Prof Irwandi ilmuwan muda muslim yang berpengaruh di Asia Pasifik. Irwandi juga mendapatkan penghargaan yang bergengsi Best Innovation Award pada forum World Halal Research Summit (WHRS) 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia dengan karya risetnya yang berjudul Nano-Structural Properties of Alternative Collagen for Halal Industry (Sifat Struktur-Nano Kolagen Alternatif untuk Industri Halal). Tahun 2006 beliau juga mendapat Medali Emas pada “The 34th International Exhibition of Inventions, New Techniques and Products of Geneva”  dengan riset “Rapid Method for Detection of Non-halal Substances in Food.”

Pesan beliau kepada kami mahasiswa Teknologi Pangan UNIMUS, bahwasannya janganlah kita ini membatasi diri. Dan harapan beliau adalah ke depan alumni dari Teknologi Pangan UNIMUS mampu melanjutkan studinya di INHART.

resources: http://tekpan.unimus.ac.id/

ALL YOU NEED TO KNOW ABOUT HALAL.

Blansir? Apa dan Mengapa?

Bagi kami mahasiswa Pangan kata “blansir” seperti spell atau mantra yang harus kami tahu dan pahami penggunaannya. Anak Pangan kalo enggak ngerti bahkan sampe enggak pernah denger kata ini, wahh perlu dipertanyakan ke-pangan-annya!

Mari kita simak bersama keterangan dari ibu Elvira Syamsir (Tulisan asli didalam Kulinologi Indonesia 1/2011) kaitannya dalam mengenal apa itu “blansir”?

MENGENAL BLANSIR

Bahan pangan nabati seperti buah dan sayur seringkali disimpan dalam bentuk produk beku, kering atau bentuk kalengan. Bentuk olahan ini akan memperpanjang umur simpan bahan disamping juga akan mempermudah dan mempersingkat waktu pengolahan bahan tersebut menjadi produk akhir.

Untuk memperoleh produk nabati beku, kering atau kalengan dengan mutu sensorik yang tetap bisa dipertahankan selama proses pembekuan, pengeringan dan pengalengan maupun selama proses penyimpanannya, dibutuhkan suatu proses pemanasan awal yang dikenal dengan istilah blansir.

Blansir juga dilakukan di industri jasa boga. Seperti di industri pangan olahan, blansir disini juga bertujuan untuk mempertahankan mutu sensorik dan nutrisi dari buah dan sayur.

BLANSIR DAN TUJUANNYA

Blansir merupakan perlakuan pemanasan awal yang biasanya dilakukan pada bahan nabati segar sebelum proses pembekuan, pengeringan atau pengalengan. Walaupun secara umum proses blansir bertujuan untuk memperbaiki mutu produk, tujuan khusus dari proses blansir bervariasi dan tergantung pada proses pengolahan yang akan dilakukan.

Pada proses pembekuan dan pengeringan, blansir dilakukan untuk menghentikan aktivitas enzim-enzim yang merusak mutu produk olahan yang dihasilkan. Sebagai contoh, enzim polifenol oksidase mengoksidasi komponen fenolik dan menyebabkan pembentukan pigmen coklat dipermukaan buah dan sayur. Pencoklatan ini tidak hanya merusak warna, tetapi juga menyebabkan terjadinya penyimpangan flavor dan penurunan mutu nutrisi buah dan sayur. Produk beku atau kering yang dibuat tanpa melalui proses blansir akan mengalami penurunan mutu sensorik (warna, flavor, tekstur) dan nilai nutrisi yang relatif cepat selama penyimpanan. Inaktifasi enzim ini pada saat blansir dapat mempertahankan warna, flavor dan kandungan nutrisi lebih lama.

Blansir yang dilakukan pada proses pengalengan, ditujukan untuk mengeluarkan udara dari dalam jaringan bahan dan meningkatkan suhu bahan (pemanasan awal). Pengeluaran udara dari jaringan dan pemanasan awal sebelum pengisian kedalam kaleng menjadi tujuan utama karena sangat berpengaruh pada penurunan kadar oksigen (pembentukan kondisi vakum) di dalam wadah. Keberadaan oksigen dalam produk kaleng tidak dikehendaki karena akan mempercepat proses kerusakan dan memperpendek umur simpan produk. Selain itu, blansir pada proses pengalengan juga bertujuan untuk melunakkan jaringan bahan sehingga mempermudah proses pengemasan (pengisian).

Pada proses pengalengan, inaktivasi enzim tidaklah menjadi tujuan utama. Pada beberapa kasus pengalengan, blansir ditujukan justru untuk mengaktivasi kerja enzim. Dalam kasus ini, aplikasi panas selama pengalengan menyebabkan lapisan epidermis bahan menjadi rusak dan tekstur berubah menjadi lembek. Blansir yang dilakukan pada suhu rendah dan waktu yang panjang dapat mencegah terjadinya pelunakan tekstur karena meningkatkan aktivitas enzim pektin metil esterase, enzim yang mengubah karakteristik biokimiawi dinding sel dan lamella tengah dari jaringan nabati menjadi lebih mudah membentuk kompleks dengan kalsium yang mencegah pelunakan tekstur.

Di industri jasa boga, buah dan sayur segar yang telah mengalami perlakuan perlukaan (misalnya dikupas, diiris atau dirajang) kadang-kadang tidak langsung diolah (dimasak) karena berbagai faktor. Seperti telah dijelaskan diatas, bahan yang mengalami perlukaan ketika kontak dengan udara akan mengalami kerusakan warna, flavor dan tekstur karena aktivitas enzim. Proses blansir dilakukan untuk inaktivasi enzim dan mencegah terjadinya kerusakan tersebut. Blansir juga bisa dilakukan untuk mempermudah proses pengupasan. Panas karena blansir akan melunakkan kulit bahan sehingga mempermudah proses pelepasan kulit bahan.

Proses blansir juga membantu membersihkan bahan dan mengurangi jumlah mikroba awal, terutama yang ada di permukaan bahan. Pada sayuran daun, proses blansir dapat mereduksi jumlah bakteri mesofilik lebih dari 103 koloni/gram, tanpa menambahkan perlakuan kimiawi. Untuk alasan ini, maka proses blansir terkadang juga digunakan sebagai alternatif pengawetan untuk produk buah dan sayur diolah minimal (contohnya salad buah dan sayur, serta fresh cut product) yang dikemas dalam kemasan vakum dengan lama penyimpanan lebih dari 10 hari dan kondisi suhu ruang penyimpanan tidak stabil di suhu dingin (kurang dari 40oC).

METODE BLANSIR

Proses blansir yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan air panas (70 – 100oC) atau dengan steam (uap panas). Saat ini juga mulai berkembang proses blansir yang dilakukan dengan menggunakan microwave.

Blansir untuk sayuran biasanya dilakukan dengan menggunakan air panas atau steam sementara blansir buah dilakukan dengan menggunakan larutan kalsium. Penggunaan larutan kalsium, bertujuan untuk mempertahankan tekstur buah melalui pembentukan kalsium pektat. Pengental seperti pektin, karboksimetil selulose dan alginat juga dapat digunakan untuk membantu mempertahankan tekstur buah agar tetap tegar setelah proses blansir.

Proses pendinginan setelah blansir dilakukan untuk menghentikan proses pemasakan, mencegah pelunakan jaringan yang berlebihan sekaligus juga berfungsi sebagai proses pencucian setelah blansir. Pendinginan dilakukan segera setelah blansir. Bahan dicemplungkan ke dalam air es selama beberapa waktu, biasanya sama dengan lamanya waktu yang digunakan untuk blansir. Waktu pendinginan juga tidak boleh terlalu lama, karena akan menyebabkan meningkatnya kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin. Untuk meminimalkan kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin, maka proses pendinginan juga dapat dilakukan dengan menggunakan udara dingin sebagai media pendinginan. Tentu saja, biaya yang dibutuhkan untuk investasi peralatan pendinginan cepat (quick cooling) akan jauh lebih besar dibandingkan dengan teknik pendinginan yang menggunakan air dingin sebagai media pendingin.

LAMA WAKTU BLANSIR

Berapa lama proses blansir yang dibutuhkan untuk inaktivasi enzim, sangat tergantung pada jenis bahan yang diblansir, metode blansir yang digunakan, ukuran bahan dan suhu media pemanas yang digunakan. Proses dapat dilakukan pada suhu diatas atau dibawah 100oC.
Waktu blansir yang direkomendasikan atau yang optimal penting untuk dipatuhi. Proses blansir yang berlebihan akan menyebabkan produk menjadi masak dan kehilangan flavor, warna dan komponen nutrisi karena komponen-komponen tersebut rusak atau terlarut kedalam media pemanas (pada proses blansir dengan air panas atau steam). Sebaliknya, waktu blansir yang tidak cukup akan mendorong meningkatnya aktivitas enzim perusak dan menyebabkan kerusakan mutu produk yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak diblansir.

Di dalam proses blansir buah dan sayuran, terdapat dua jenis enzim yang tahan panas, yaitu enzim katalase dan peroksidase. Kedua enzim ini memerlukan pemanasan yang lebih tinggi untuk menginaktifkannya dibandingkan enzim-enzim yang lain. Baik enzim katalase maupun peroksidase tidak menyebabkan kerusakan pada buah dan sayuran. Namun karena sifat ketahanan panasnya yang tinggi, enzim katalase dan peroksidase sering digunakan sebagai enzim indikator bagi kecukupan proses blansir. Artinya, apabila tidak ada lagi aktivitas enzim katalase atau peroksidase pada buah dan sayuran yang telah diblansir, maka enzim-enzim lain yang tidak diinginkan pun telah terinaktivasi dengan baik.

IMG_20161107_120224

blansir pada buah dan sayur (ex: magga-atas kanan; kentang-bawah kanan)

PENGGANTI BLANSIR

Blansir dengan air panas tidak selalu diinginkan, terutama pada buah potong yang akan dimakan dalam bentuk segar dan buah beku yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar (tanpa pemasakan) setelah proses thawing. Pada buah potong yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar, proses blansir dapat menyebabkan perubahan karakteristik sensorik ‘khas buah segar’-nya. Sementara pada buah beku, kerusakan panas yang terjadi selama blansir pada beberapa jenis buah menyebabkan perubahan flavor dan tekstur buah (tekstur menjadi porous seperti gabus) setelah di-thawing. Kondisi ini menyebabkan buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi segar. Untuk kasus seperti ini, maka digunakan metode alternatif lain untuk menghambat perubahan enzimatis terutama reaksi pencoklatan.

Beberapa metode yang bisa digunakan sebagai pengganti blansir pada pembuatan buah beku adalah inaktivasi enzimatis secara kimia, menghindarkan kontak dengan oksigen (misalnya dengan mengemas buah dalam larutan gula) dan perendaman dalam larutan yang mengandung antioksidan (misalnya asam askorbat).

Pemborosan Makanan

Salah satu pemandangan yang menyedihkan adalah sikap sebagian orang yang suka membuang-buang makanan. Bahkan kadang membuang makanan yang masih sangat layak untuk dikonsumsi. Dan salah satu perbuatan yang dibenci Allah adalah membuang-buang harta. Termasuk diantaranya, membuang-buang makanan.

Berikut ini ada sembilan fakta perihal pemborosan makanan yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO):

  1. Volume global dari pemborosan makanan di dunia diperkirakan mencapai 1,6 miliar ton. Dari jumlah ini, total pemborosan makanan untuk bagian yang dapat dimakan adalah 1,3 miliar ton.
  2. Jejak karbon yang ditinggalkan akibat pemborosan makanan ini diperkirakan 3,3 milyar ton karbon dioksida yang setara dengan emisi rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfir setiap tahun.
  3. Total volume air yang digunakan setiap tahun untuk menghasilkan makanan yang hilang atau terbuang (250 Km3) setara dengan aliran Sungai Volga di Rusia, atau tiga kali volume Danau Jenewa.
  4. Sebesar 1,4 miliar hektar lahan—28 persen dari daerah pertanian di dunia—digunakan setiap tahun untuk menghasilkan makanan yang hilang atau terbuang.
  5. Pelacakan oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam menyebut bahwa pertanian bertanggung jawab untuk sebagian besar ancaman terhadap spesies tanaman dan hewan berisiko.
  6. Dari semua makanan yang terbuang, hanya sebagian kecil yang berakhir menjadi kompos. Kebanyakan berakhir di tempat pembuangan sampah, dan mewakili sebagian besar sampah kota. Emisi metana dari tempat pembuangan sampah merupakan salah satu sumber terbesar emisi gas rumah kaca dari sektor sampah.
  7. Rumah kompos dapat berpotensi mengalihkan hingga 150 kg limbah makanan per rumah tangga setiap tahun dari otoritas pemungutan lokal.
  8. Negara-negara berkembang menderita lebih banyak kerugian makanan selama produksi pertanian, sedangkan untuk kelas menengah dan daerah berpenghasilan tinggi, limbah makanan di tingkat ritel dan konsumen cenderung lebih tinggi.
  9. Konsekuensi ekonomi langsung dari pemborosan makanan (tidak termasuk ikan dan makanan laut) mecapai 750 miliar dolar per tahun.

Dan kemudia daya kaitkan dengan pelajaran aqidah seorang Muslim bahwasanya dari Mughirah bin Syu’bah  radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membeci kalian karena 3 hal: “katanya-katanya” (berita dusta), menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta. (HR. Bukhari 1477 & Muslim 4578).

Dan masihkah kita tidak peduli terhadap lingkungan sendiri? Mulai sekarang, yuk kita kurangi pemborosan makanan. Pahami porsi sendiri sehingga tak perlu membuang makanan. Bila perlu habiskan porsi makan teman kita kalo mereka menawarkan sisanya :v daripada jadi mubazir dan terbuang sia-sia.
                                                     “SAY NO TO FOOD WASTE”
Sumber :

Dibalik Hujan

Bolehkah menyatakan kerinduan ataupun perasaan kepada seseorang?

Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis.

Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada Yang Maha Menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik, aamiin.

 

Jika dua orang ditakdirkan bersama, maka dari sudut bumi manapun mereka berasal, mereka pasti bertemu.

Jadi santai saja, lebih baik fokus sekolah, bekerja. Itu akan membawa kalian mengelilingi bumi ini, dan menjemput jodohnya dari sudut manapun.

Orang yang kita sukai sekarang, belum tentu yang terbaik bagi kita. maka tidak perlu aneh-aneh, salting, pacaran, segera bilang dan sebagainya karena sungguh, dengan bersabar, dengan menahan diri, justru akan membawa kita ke seseorang yang lebih baik dan lebih pantas esok lusa.

Takdir itu selalu berbelok-belok, penuh misteri. Punya lapisan skenario.

The right person in the right moment and in the right way.

Meskipun tidak bilang, itu tetap cinta, bukan?
Tidak akan berkurang nilainya.

Prasangka dalam Harga Diri

“Faktanya adalah kau sudah lelah menerima kesopanan,kehormatan, dan perhatian yang berlebihan. Kau sudah muak dengan wanita yang berbicara, memandang, dan berusaha keras untuk mencari persetujuan darimu. Lalu aku datang, dan kau langsung tertarik karena aku sangat berbeda dari mereka. “

Kalau saja kita bisa menunjukkan perasaan kita didepan umum ya… Kadang-kadang, menyembunyikan perasaan juga bisa merugikan. Jika seorang wanita menutupi rasa sukanya kepada seseorang, dia mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya, dan dia salah jika beranggapan dunia tidak mengetahui apa-apa. Ada begitu banyak yang patut disyukuri atau pun dipamerkan di dalam setiap hubungan, dan tidak selayaknya kita diam saja. Kita semua bisa memulainya dengan bebas –menunjukan sedikit ketertarikan adalah hal yang cukup wajar, tapi hanya ada segelintir wanita yang cukup berani jatuh cinta tanpa dorongan.

 

Hmmm dua minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk mengenal seseorang. Kita tidak mungkin bisa mengetahui watak asli seseorang hanya dalam waktu 2 minggu.

Aku tidak ingin terlalu terburu-buru menilai seseorang, tapi aku selalu mengatakan apa saja yang ada dalam pikiranku. Kau tahu itu, dan itulah yang membuatmu heran. Dengan perasaan yang terlihat ‘sebaik’ itu, aku masih mudah buta akan kekonyolan dan omong kosong orang lain! Cukup banyak orang yang berpura-pura baik – kita bisa menemukannya dimana-mana. Tapi, yang berwatak tulus tanpa pamrih – yang hanya bisa melihat sifat baik seseorang dan memuji-mujinya tanpa mengatakan satu pun keburukannya – Kita tidak mengetahuinya dengan pasti, dan kita yakin itu sedikit.

 

Dan ya……. Adakah yang bisa dibanggakan dari tindakan terburu-buru yang menyebabkan urusan penting terbengkalai dan tidak bermanfaat bagi dirimu sendiri ataupun orang lain?

Aku percaya kau memang seperti itu.

Sungguh malang karena kau selalu bisa memberikan jawaban yang beralasan, dan aku selalu bisa menerimanya! Tapi kau bertanya-tanya sampai kapan aku akan tetap bersikap begitu jika tidak ada yang mendorongku, entah kapan kau akan menyatakan perasaanmu seandainya aku tidak bertanya kepadamu! Sudah keputusanku untuk mengucapkan terima kasih kepadamu atas kebaikanmu.

 

“Kita saling bermusuhan, bahkan sering kali saling melontarkan sindiran pedas. Tapi kebencian kita berangsur menjadi ketertarikan seiring berjalannya waktu.”

 

 

terkesan galau atau romantis? emmm sepertinya berada dalam penilaian yang terkandung unsur keduanya ya huffttttt… maklum lah ya ini juga kebentuk dari aliran yang begitu menyengat disuatu hari yang gelap gulitaaaaaa zingggggggzingggggggggggggggggg………..

 

 

 

 

 

 

*gadeng* inspired by Salah Satu Roman Terpopuler Sepanjang Masa!!!